Lewati ke konten utama
YayasanJejak Kasih Indonesia

Mendirikan dapur sekolah di Sumba

Permasalahan

“Stunting” adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis. Dampaknya tidak hanya terlihat pada pertumbuhan fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kemampuan belajar dan kesehatan anak dalam jangka panjang. Sebagian dampaknya bahkan sulit dipulihkan setelah anak melewati usia tertentu.

Prevalensi stunting di Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 37%, hampir dua kali lipat dari prevalensi nasional sebesar 19,8%, dan merupakan yang kedua tertinggi di Indonesia.

Sumber: Survei Status Gizi Indonesia 2024, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diambil 8 Agustus 2026.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah telah menjangkau jutaan anak, namun pelaksanaannya belum merata. Di Kabupaten Sumba Barat Daya, koordinator SPPG menyebutkan bahwa terdapat sekitar 120.000 anak sekolah, sementara delapan dapur SPPG saat ini melayani sekitar 21.000 anak.

Sumber: Koordinator SPPG Kabupaten Sumba Barat Daya, dikutip Pos-Kupang, Juli 2026. Diambil 7 Agustus 2026.

Pendekatan kami

  • Dibangun sesuai standar SPPG

    Pedoman keamanan pangan menetapkan bahwa makanan matang yang disimpan pada suhu di bawah 60°C selama lebih dari dua jam berada dalam kondisi berisiko. Karena itu, radius pelayanan enam kilometer menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan lokasi dan digunakan sebagai acuan dalam analisis lokasi kami. Dapur akan dirancang dan dibangun untuk memenuhi standar tersebut sejak hari pertama, bukan baru disesuaikan kemudian.

  • Satu dapur yang dibangun dengan benar

    Kami akan memilih satu lokasi, membangun atau merenovasi dapur hingga memenuhi standar higiene dan sanitasi, melatih juru masak setempat, dan memastikan dapur beroperasi setiap hari sekolah.

  • Bahan pangan dari pasar setempat

    Sedapat mungkin bahan akan dibeli di wilayah yang sama, sehingga dana yang masuk nantinya juga menjadi pendapatan bagi keluarga di sekitar sekolah.

Sumber: Diadaptasi dari WHO Five Keys to Safer Food dan prinsip HACCP (Codex Alimentarius). Diambil 7 Agustus 2026.

Peti kentang, wortel, buncis, dan kubis di sebuah lapak pasar tertutup di Sumba, dengan tangan penjual di belakangnya.

Bahan dari wilayah setempat

Sedapat mungkin, bahan pangan akan dibeli dari wilayah yang sama, sehingga dana yang dibelanjakan juga menjadi sumber pendapatan bagi keluarga di sekitar sekolah.

Standar yang akan kami terapkan dan cara kami membuktikannya

Yayasan saat ini belum memiliki dapur, staf dapur, sertifikat higiene, rantai dingin, maupun pasokan listrik yang telah terkonfirmasi. Daftar di bawah ini merupakan komitmen yang akan kami penuhi, bukan kapasitas yang sudah berjalan. Setiap pengendalian akan disertai dokumentasi sebagai bukti, dan dokumentasi tersebut akan kami publikasikan.

  1. Suhu inti saat memasak

    ≥74°C

    BERIKUTNYA

    Catatan yang akan membuktikannya
    Catatan suhu untuk setiap menu, ditandatangani juru masak yang bertanggung jawab

  2. Suhu saat disajikan

    ≥60°C

    BERIKUTNYA

    Catatan yang akan membuktikannya
    Catatan suhu pada saat penyajian

  3. Jeda dari panci ke piring

    Kurang dari 2 jam

    BERIKUTNYA

    Catatan yang akan membuktikannya
    Catatan waktu selesai memasak dan waktu mulai penyajian

  4. Sampel makanan yang disimpan dari setiap menu

    Didinginkan, disimpan 24 jam

    BERIKUTNYA

    Catatan yang akan membuktikannya
    Catatan sampel simpan dan foto lemari pendingin penyimpanan sampel

  5. Penyimpanan dingin

    0 hingga 4°C

    BERIKUTNYA

    Catatan yang akan membuktikannya
    Catatan suhu harian lemari pendingin

  6. Penerimaan protein hewani mentah

    ≤4°C

    BERIKUTNYA

    Catatan yang akan membuktikannya
    Catatan penerimaan barang dari pemasok

  7. Tata letak dapur

    5 zona, alur kerja satu arah

    BERIKUTNYA

    Catatan yang akan membuktikannya
    Gambar tata letak dan Label Higiene Sanitasi Pangan dari Dinas Kesehatan setempat

Sumber: Diadaptasi dari WHO Five Keys to Safer Food dan prinsip HACCP (Codex Alimentarius). Diambil 7 Agustus 2026.

Tiga anak berseragam sekolah mengisi wadah air di sebuah bak batu di Sumba.

Dapur memerlukan pasokan air yang dapat diandalkan. Sumur bor merupakan komponen tersendiri dalam anggaran pembangunan, dan hingga saat ini belum ada yang dibangun.

Biaya

Kami mencantumkan angka biaya karena donatur berhak membandingkannya. Biaya pembangunan dan biaya operasional merupakan dua hal yang berbeda, dan tidak pernah kami gabungkan menjadi satu angka.

Biaya pembangunan (satu kali)

Satu kali, sebelum biaya pengangkutan

Perkiraan biaya pembangunan menurut pilihan tingkatan, satu kali.
RincianPerkiraan biaya
Renovasi bangunan yang sudah ada hingga memenuhi standar SPPG, kapasitas 3.000 porsi per hariRp 1 hingga 2 miliar
Sumur bor, apabila diperlukanRp 50 hingga 100 juta

Komponen terbesar dalam angka tersebut meliputi penyiapan dapur lima zona dengan alur satu arah, peralatan memasak dan pengukus skala komersial, meja persiapan dan area pencucian dari baja tahan karat, peralatan pendingin untuk penyimpanan dan sampel simpan, pengolahan air dan drainase, listrik tiga fase beserta genset, serta pekerjaan bangunan untuk membawa struktur yang ada hingga memenuhi standar. Kami belum mencantumkan biaya untuk setiap komponen, karena lokasi belum dipilih dan penawaran harga dari pemasok setempat belum diperoleh. Saat ini pembagian biaya hanya akan menjadi perkiraan kami, bukan berdasarkan harga yang sebenarnya.

Tambahan 10 hingga 15% untuk pengangkutan, karena sebagian besar dari peralatan kami akan dikirim dari Jawa.

Biaya operasional per tahun, pada kapasitas penuh

3.000 porsi per hari, sekitar 200 hari sekolah

Perkiraan biaya operasional satu dapur per tahun.
RincianPerkiraan biaya
Bahan makanan, Rp 9.000 per porsiRp 5,4 miliar
Tenaga kerja, gas, air, listrik, transportasi, dan pemeliharaan, Rp 6.250 per porsiRp 3,8 miliar
JumlahRp 9,2 miliar

Inilah perkiraan biaya untuk menjalankan dapur pada kapasitas penuh selama satu tahun. Ini bukan jumlah tahunan yang kami minta untuk didanai oleh donatur. Sebelum dapur masuk ke dalam program nasional, biaya operasional ini akan ditanggung oleh yayasan. Setelah dapur masuk ke dalam program, biaya harian penyediaan makanan akan ditanggung oleh pemerintah. Keputusan mengenai masuknya dapur ke dalam program berada di tangan pemerintah dan tidak dapat dijamin.

Setara dengan Rp 15.250 per porsi atau sekitar US$0,94. Angka ini hanya mencakup biaya operasional dan belum termasuk biaya pembangunan dapur.

Kami tidak mencantumkan biaya pembangunan per porsi. Perhitungan tersebut bergantung pada tingkat pembangunan, masa pakai aset, dan jumlah porsi yang diproduksi setiap tahun, yang ketiganya belum ditetapkan.

Kurs yang digunakan: sekitar Rp 16.300 per USD dan Rp 10.600 per AUD, Agustus 2026.

Menjadi bagian dari program nasional

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dijalankan oleh Badan Gizi Nasional melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Setelah sebuah sekolah tercakup dalam program ini, biaya penyediaan makanan hariannya ditanggung oleh pemerintah, bukan melalui donasi.

Karena itu, dapur ini akan dirancang dan dibangun untuk memenuhi standar SPPG sejak awal, bukan baru disesuaikan kemudian. Urutan yang kami rencanakan adalah membangun dapur, mengoperasikannya, lalu mengajukannya untuk masuk ke dalam program nasional. Yayasan berniat untuk tetap mengoperasikan dapur tersebut setelah masuk ke dalam program.

Dengan demikian, donasi hari ini digunakan untuk membiayai pembangunan dapur dan fasilitasnya sebagai investasi satu kali, sementara biaya penyediaan makanan selanjutnya akan dialihkan ke anggaran pemerintah setelah dapur masuk program. Inilah alasan utama kami akan membangun sesuai standar, bukan sekadar memilih opsi yang paling murah.

Masuk ke dalam program nasional tidak menghilangkan kebutuhan akan donasi, tetapi mengubah peruntukannya. Program nasional membiayai penyediaan makanan bagi sekolah yang berada dalam radius pelayanan enam kilometer dari dapur. Namun, program ini tidak menjangkau semua pihak: panti asuhan dan desa di luar radius tersebut berada di luar cakupannya. Rencananya, dapur akan menyediakan makanan bagi sekolah yang tercakup dalam program nasional, sementara dana donasi akan digunakan secara terpisah untuk menyediakan makanan bagi mereka yang belum terjangkau program. Keduanya akan menggunakan standar yang sama dan berasal dari dapur yang sama. Kami akan mencatat kedua sumber pendanaan tersebut secara terpisah, sehingga terdapat catatan yang jelas mengenai makanan mana yang dibiayai pemerintah dan mana yang dibiayai oleh donatur.

Status saat ini

Kami sedang dalam proses menentukan lokasi. Survei sekolah di tiga kecamatan di Kabupaten Sumba Timur telah selesai, mencakup 48 sekolah negeri beserta keterangan kapasitas listrik dan status akreditasi, keterangan luas lahan untuk satu dari ketiga kecamatan, serta pemodelan jarak untuk calon titik dapur. Hasil analisis tersebut kami publikasikan secara agregat di halaman Bukti dan data.

Dari survei itu kami menerbitkan sebuah rekomendasi. Berdasarkan bukti yang ada, Pahunga Lodu adalah calon terkuat: hanya kisaran cakupan hasil pemodelannya, 2.400 hingga 2.600 anak, yang mencapai skala dapur 3.000 porsi per hari yang menjadi dasar model biaya kami, dan 9 dari 10 sekolah di dalam radius pelayanannya memiliki listrik PLN yang terkonfirmasi, sedangkan pasokan listrik adalah faktor yang paling belum pasti di dalam perkiraan biaya pembangunan. Yang kami terbitkan adalah rekomendasi, bukan keputusan: belum ada kecamatan yang dipilih, belum ada sekolah yang kami hubungi, belum ada yang kami janjikan kepada siapa pun, dan kunjungan lapangan belum dilakukan. Alasan lengkapnya, termasuk kasus Kahaungu Eti yang dari sisi kebutuhan yang belum terlayani justru paling kuat, ada pada halaman Bukti dan data.

Kami juga sedang meninjau Kabupaten Sumba Barat Daya, yang memiliki kepadatan penduduk jauh lebih tinggi, tetapi cakupan program yang masih lebih rendah.

Keputusan lokasi dijadwalkan pada September 2026, dan rekomendasi ini masih menunggu kunjungan lapangan. Ada dua hal yang dapat mengubahnya: kunjungan itu tidak menemukan bangunan yang layak atau tidak menemukan sekolah yang bersedia ikut, dan tiga sekolah yang koordinatnya hilang atau tidak valid pada registri, yang apabila ternyata berada di luar radius pelayanan akan memperkecil perkiraan cakupan anak.

Tahap yang sedang kami kerjakan

Kami mempublikasikan seluruh tahapan ini secara lengkap, termasuk tahapan yang belum selesai, karena urutan tersebut memberikan informasi penting bagi para pemberi dana maupun dinas terkait.

  1. Yayasan didirikan di hadapan notaris

    30 Juni 2026

    SELESAI
  2. Kegiatan usaha pada NIB disesuaikan dengan kegiatan yang dijalankan

    21 Juli 2026

    SELESAI
  3. Survei 48 sekolah negeri di tiga kecamatan selesai dan analisisnya diterbitkan

    7 Agustus 2026

    SELESAI
  4. Rekomendasi lokasi diterbitkan, Pahunga Lodu, dan itu belum keputusan

    9 Agustus 2026

    SELESAI
  5. Standar keamanan pangan dan catatan pembuktiannya disusun

    SEDANG DIKERJAKAN
  6. Lokasi dapur pertama ditetapkan, dijadwalkan September 2026

    SEDANG DIKERJAKAN
  7. Izin usaha jasa boga, KBLI 56290, terdaftar

    SEDANG DIKERJAKAN
  8. Persetujuan lokasi usaha dan Label Higiene Sanitasi Pangan diperoleh

    BERIKUTNYA
  9. Surat Keterangan Catatan Kepolisian bagi staf yang berpotensi berkontak dengan anak

    BERIKUTNYA
  10. Formulir persetujuan orang tua atau wali sesuai UU 27/2022 disusun

    BERIKUTNYA
  11. Dapur dibangun, juru masak setempat dilatih, lalu porsi pertama disajikan

    BERIKUTNYA
  12. Dapur diajukan untuk masuk program nasional

    BERIKUTNYA

Pendanaan program ini

Pendanaan untuk program ini dihimpun oleh EffortX Foundation Ltd (Australia), yang juga menerbitkan tanda terimanya. Yayasan menerima penyaluran dana secara bertahap. Angka terkini ada pada halaman Beranda.

Lihat halaman proyek (membuka di tab baru)
Dukung kami (membuka di tab baru)